Rabu, 17 Juli 2013

Beajar Islam

Ibu...,





Bismillah,
Was shalatu was shalaamu 'ala Rasulillah, wa 'ala alihi wa ashabihi wa man tabi'ahum biy ihsaniy ila yaumil qiyamah, 'amma ba'du...

Allah Ta’ala menjelaskan kepada kita, bahwa peran ibu lebih  besar dalam hal perjuangan dan kesabarannya di dalam kehidupan ini dibanding  ayah. Oleh karena itu Allah menyebutkan ibu secara khusus, untuk mengingatkan  bahwa hak ibu lebih besar dibanding hak ayah. Hal ini disebabkan ibu yang mengandung janin di dalam perutnya selama Sembilan bulan; dan dialah yang memberinya segala kebutuhannya berupa makanan dan lain-lain dari darah dan dagingnya.
Janin terbentuk di dalam dan dari padanya. Dia makan dan bernapas untuk janinnya dan dirinya sendiri, dia memberikan kesehatan dan kekuatannya kepada janin, sekalipun dia sendiri sangat lemah. Karena itu Allah Ta’ala berfirman, “Dan Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orangtua ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam
dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada kedua ibu-bapakmu. Hanya kepadaKulah kembalimu’. (Lukman : 14)
Ibu mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan berlipat ganda. Setelah dilahirkan, bayi tidak terpisah dari ibunya, bahkan setelah itu ia senantiasa membutuhkannya, menetek dan makan dari ibunya. Setelah bersalin, sang ibu terus memberinya sebagian kesehatannya, sebagaimana memberinya makan sebelum itu. Jika demikian bagaimana ibu tidak lebih utama dibanding bapak?
Memang bapak merasa payah karena memperhatikan kepentingan anak-anaknya, tetapi dia tidak merasakan penderitaan seperti yang dirasakan oleh ibu.
Ibu tidak suka derita dan siksaan bersalin, tetapi menerimanya karena cintanya pada anak, oleh sebab itu Allah Yang Maha Bijaksana berfirman, “Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah dan melahirkannya dengan susah payah (pula)”. (Al Ahqoq : 15)
Ibu mencintai anak, tetapi tidak mencintai penderitaan. Adapun bapak tidak benci kepada pekerjaan, malam di dalamnya Ia mendapatkan kesenangan dan keuntungan. Karena manusia memiliki fitrah cinta kepada keuntungan. Lebih dari itu, ibu memelihara anak, baik yang bersifat badaniah maupun adabiah, dan mempunyai andil dalam mendidiknya. Dialah sekolah pertama bagi anak; dialah yang mengarahkan, mendidik, dan mengajari bersopan santun; dialah yang selalu mengawasinya …[1].
JAZAAKILLAHU KHOIROL JAZA’ DUHAI IBUKU …
Ibu ..kata pertama yang kuucapkan ketika mulai belajar berbicara.
Kalimat paling indah yang pernah kulang-ulang …
Ingin rasanya kutuangkan ungkapan terima kasih dan sebuah pengakuan kepada ibuku.
Sebuah pengakuan dan terima kasih kepada ibuku yang kuyakini telah berjasa kepadaku setelah anugerah dan rahmat Allah Ta’ala.
Apapun yang kukatakan, dan apapun yang  kulakukan, takkan bisa aku membalas jasamu duhai ibuku.
aku takkan melupakan haribaanmu yang penuh kasih sayang
Takkan kulupa malam-malam yang engkau lalui tanpa memejamkan mata sepicingpun.
Dan hari-harimu yang penuh dengan keletihan.
aku tidak lupa ketika kita semua berkumpul mengelilingi hidangan makan di atas tikar pandan, lalu engkau mendahulukan kami dari pada dirimu dengan segala macam makanan dan minuman yang lezat dan enak..bahkan setelah kami mulai tumbuh besar engkaupun masih rela menyuapkan makanan ke mulut kami …
Betapa lelahnya engkau wahai ibu, ketika kami terlambat pulang di malam hari karena bermain, seluruh penghuni rumah telah lelap tinggallah engkau menahan kantuk menanti kepulangan kami.
Dulu, engkau takut dan khawatir ketika kami bermain ditepi sungai..aku ingat, engkau pernah marah ketika aku bermain ditepian sungai lalu memukulku, ketika itu aku belum mengerti kenapa engkau begitu marah. Tatkala aku besar dan dewasa, anakmu ini mengerti. Semua itu engkau lakukan karena engkau mengkhawatirkan keselamatan aku anakmu!!
Aku tidak akan lupa, ketika aku beranjak remaja dan pergi merantau untuk menuntut ilmu engkau ikut bersusah payah bekerja, menumbuk tepung membuat kue dan berjualan mengumpulkan uang dari sana dan sini untuk membantu pendidikan kami anak-anakmu.
Ya Allah .. rahmatilah ibuku
Betapa letihnya diriku ketika pulang liburan kemudian datanglah saat untuk kembali ketempat perantauan ..hatiku serasa terputus-putus ketika engkau berkata kepadaku, “Mungkin ketika engkau nanti kembali lagi engkau tidak melihatku lagi …”.
Alangkah sedih hatiku, setelah bertahun-tahun aku tidak pulang, ketika pertama kali aku berdiri di hadapanmu engkau katakan, “Ini bukan anakku”. Karena kondisi dan penampilanku yang tidak seperti engkau bayangkan …
Tak kuasa diriku menahan air mata  mendengarnya, membuatku tersungkur memeluk kakimu dan ketika tanganmu membelai kepalaku serasa tetesan-tetesan embun memadamkan kesedihan dan mengobati kerinduan hati.
Setelah perjalanan panjang yang kulalui jauh darimu, akupun pulang ..engkau telah beranjak tua dan lemah. Sungguh engkau telah berikan untukku dan saudara-saudaraku tahun-tahun terindah dan paling manis dalam hidupmu.
Berapa sering engkau membela kami. Entah berapa banyak pengorbananmu untuk kami. Engkaulah yang telah menanggung keresahan dan kegundahan kami, engkau selalu berusaha mewujudkan keinginan kami sekalipun kami telah besar.
Dulu dipanggil fulan .. dan hari hari ini orang memanggilku ustadz fulan..semua itu demi Allah tidak lain dan tidak bukan karena anugerah Allah semata kemudian karena jasamu ibu. aku ini demi Allah tidak lain dan tidak bukan adalah satu dari sekian banyak buah kebaikanmu ibu. Semoga Allah membalas kebaikanmu dengan sebaik-baik pahala
Wahai pemilik senyuman yang tulus, wahai pemilik hati yang dermawan dan penuh kasih sayang
Untukmu aduhai bunga yang tak pernah layu
Untukmu wahai mata air yang bening
Untukmu yang telah mengusap air mataku
Untukmu yang telah membasuh kotoranku
Yang telah menyuapkan makan dan minum dengan tangannya kemulutku
Untukmu yang telah menjadikan haribaannya sebagai ketenangan bagiku
Matanya yang selalu mengawasiku
kuhadiahkan untai kata dan rangkai kalimat  ini untukmu dan  semoga Allah membalas segala budi baikmu dengan sebaik-baik balasan.
Ya Allah jagalah ibuku dengan penjagaanMu, panjangkanlah umurnya, perbaikilah amalannya, dan tutuplah usianya dengan amal sholeh dijalanMu.
Ibu .. kalaulah umurmu ditanganku ingin menambahkannya sekalipun aku harus binasa karenanya.
Ibu .. kalau aku kuasa, kan  kuangkat engkau setinggi-tingginya hingga ke langit.
Demi Allah tidak akan ada yang bisa memberikan hakmu dengan sempurna kecuali Allah Ta’ala.
IBU .. TAHUKAH ENGKAU SIAPA ITU IBU?
Dia adalah contoh kasih sayang yang hidup di tengah kita, tidak ada yang memandangnya dengan penghormatan dan penghargaan melainkan orang-orang yang dikasihi Allah. Ibu adalah laksana batu karang kesabaran. Gambaran hidup bagi sifat pema’af dan lapang dada.
Seseorang bercerita, “Sekarang aku baru mengetahui arti ungkapan sebagian orang ‘mendengar bukan seperti menyaksikan’. Aku banyak mendengar ragam ungkapan tentang besarnya keutamaan seorang ibu. Sama seperti yang lainnya, aku mendengar semua itu tapi hanya sebatas lewat ditelinga. Terkadang ungkapan yang indah menggetarkan perasaanku. Kadangkala aku mengangguk-angguk kagum mendengar bait-bait syair yang indah kemudian tidak tampak wujudnya dalam kehidupan nyata.
Akan tetapi Allah mengingikan kebaikan untukku, ketika aku dapatkan diriku mengikuti fase-fase perkembangan kehamilan istriku selangkah demi selangkah.
Dan ketika ia memasuki bulan yang kesembilan lebih sedikit. Aku bayangkan diriku adalah bayi meringkuk di dalam rahim itu. Aku terus mengikuti dan mengawasi .. aku mulai merasakan sebagian makna-makna tersebut yang sering aku dengar ..tentang keutamaan seorang ibu.
Aku telah melihat  dan melihat sesuatu hal yang luar biasa, membuat kepala menggeleng-geleng, hati tersentuh dan mata menangis. Sejak itu aku benar-benar yakin bahwasanya ibu wanita yang agung ini, manusia tidak akan pernah bisa membalas jasa dan budi baiknya sepanjang masa.
Betapapun indahnya untai kata sebuah puisi dan rangkai kalimat nan lembut sebuah sya’ir
Demi Allah  tidak akan ada yang bisa membalas kebaikannya kecuali Allah semata. Diakhir bulan yang kesembilan itu ..apa yang aku saksikan!! Aku memohon rahmatMu ya Allah ..apakah sanggup seorang manusia menanggung semua kepedihan dan rasa sakit itu??!! Aku melihatnya menanggung semua itu dengan kegembiraan dan kebahagiaan. Aku melihatnya dan mendengarnya dan ia tidak sadar ketika ia mengerang kesakitan aku merasakan panasnya pedih yang dirasanya berpindah langsung ke dalam hatiku. Aku berusaha berjuang melawan diriku agar mataku tidak mempermalukanku. Kemudian tidak beberapa lama, aku dikejutkan lagi oleh dirinya yang tersenyum melupakan kepedihan dan rasa sakit itu, seraya menunjuk ke perutnya ia berkata, “Aku sangat mencintaimu bayiku, aku rindu untuk melihatmu”. Maha suci Allah yang melimpahkan kesabaran kepadanya untuk menanggung kepedihan yang bersambung dengan ruhnya.
Engkau melihatnya apabila bergerak merasa pedih, apabila duduk merintih, apabila berbaring meringis, apabila berjalan letih, apabila berusaha tidur untuk rehat sejenak tidak sanggup. Dia tidak bisa berbolak-balik di tempat tidurnya seenaknya seperti sebelum ia mengandung bayi itu. Namun begitu ia masih saja sibuk dengan mengatur, membersihkan, merapikan dan mengurus urusan rumah. Serta mengasuh anak-anaknya yang masih kecil; memberi makan, memandikan dan menidurkan mereka. Itu semua dilakukannya sendiri bagaikan mengangkat sebuah gunung.
Dan setelah itu  ia masih berujar kepada kesabaran dengan tersenyum, “hai sabar, ambillah pelajaran dariku. Hai sabar, ambillah pelarajan dariku”.
Cobalah dirimu menjadi seorang ibu. Apakah sanggup seorang laki-laki untuk tinggal bersama seorang bayi usia dua atau tiga tahun sepanjang hari kalau tidak dia akan menyumpah serapah atau memaki dirinya sendiri karena kesal atau menyesal.
Demi Allah, hanya seorang ibu saja yang sanggup menanggung itu dengan ridho, rela dan senyuman.
Alangkah indahnya pemandangan ketika seorang ibu duduk dan di sekelilingnya duduk pula anak-anaknya yang masih kecil, tak obahnya anak-anak burung yang membuka paruhnya supaya ibunya menyuapkan makanan …
Sang ibu membujuk ini untuk makan, bercanda dengan yang lainnya sambil menyuapkannya, dan memberi minum anaknya yang lain setelah berulangkali merayunya. Serta tertawa dengan yang paling kecil agar mau menyantap makanannya.
Semua itu ia lakukan  sambil duduk ditengah-tengah mereka dengan posisi yang tidak mengenakkan, hampir-hampir saja seluruh persendiannya menjerit, mengaduh menahan sakit. Namun begitu ia tetap tersenyum dan memberi semangat anak-anaknya agar mau makan.
Kemudian tiba-tiba ia menjerit pelan, ia baru saja menerima tendangan bayi di dalam perutnya maka ia segera memperbaiki posisi duduknya, setelah itu ia kembal itersenyyum seolah-olah tidak pernah terjadi sesuatu.
Lantas, janinnya kembali memberikan pukulan dan tendangan lagi seolah-olah ia berkata kepada ibunya, “Aku disini ibu”.
Sang ibu gembira dengan pukulan dan tendangan janinnya, sedangkan janinnya tidak membiarkannya beristirahat barang sejenak. Apabila tidak terasa gerakan janinnya ia takut dan cemas, apabila bergerak ia gembira dan senang.
Subhanallah, beragam rasa sakit dan derita yang saya kira kalau ditimpakan kepada seorang laki-laki berotot barangkali ia akan menjerit sampai terdengar oleh tetangga-tetanggannya.
Adapun dia, tetap  sabar mengharapkan ridho Allah, bahkan tersenyum dan tertawa.
Semoga rahmat Allah untuknya, ramat Allah atasnya dan rahmat Allah bersamanya.
Apakah engkau mengira sakit dan pedih itu berakhir sampai disitu saja?!
Alangkah mulianya engkau ibu …
Apabila telah lewat usia kandungan Sembilan bulan, dan telah dekat saat keluarnya janin ke dunia, datanglah musibah itu. Si janin tidak ingin tinggal lagi dirahim ibunya, tapi dia tidak juga keluar dengan sukarela ke dunia fana ini. Ketika itulah rasa sakit yang tidak tertahankan, derita yang tidak ringan. Kemudian sering pula janin tidak keluar kecuali dengan paksaan, sehingga kadang daging harus disayat, perut dibelah atau divakum .. kemudian rasa sakit kian bertambah ketika janin mulai keluar ..darah berpacu dengan janin dan kematian  serasa di ambang mata, terkadang kematian yang lebih dahulu dan si ibupun mati sementara janinnya yang hidup. Apabila sang ibu dikaruniahi usia yang panjang ia sadar setelah menghadapi kondisi yang berat ini, lalu apabila ia melihat bayinya terbaring disisinya, ia pun tersenyum .. hilang rasa sakit, lupa derita yang baru saja dilaluinya.
Ya Allah yang Maha pengasih lagi Maha penyayang, alangkah menakjubkannya kasih sayang seorang ibu dan kerinduan kepada bayinya. Ia berjuang menghadapi rasa sakit dan kematian kemudian ia berangan-angan rela mati untuk kehidupan bayinya.
Ibu …
Kalaulah bintang gemintang memancarkan sinarnya menerangimu
Kalaulah semua burung-burung bernyanyi menyenandungkan namamu
Kalaulah angin lembut bertiup menaburkan butiran embun nan bening dan wangi dipangkuanmu
Semua itu tidak cukup untuk membalas jasamu ibu.
عن أنس قال : ارتقى النبي على المنبر درجة فقال آمين ..ثم ارتقى الثانية فقال آمين ..ثم ارتقى الثالثة فقال آمين ..ثم استوى فجلس فقال أصحابه : علامَ أمنت يا رسول الله ؟!..فقال : (( أتاني جبريل فقال : رغم أنف امرئ ذُكرت عنده فلم يصلِ عليك ، فقلت : آمين ثم قال : ورغم أنف امرئ أدرك أبويه ولم يدخل الجنة…”
Dari Anas rodhiyallahu ‘anhu ia menuturkan, Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallama naik ke tangga pertama mimbar maka belia mengucapkan amin, kemudian naik ke anak tangga ke dua seraya lalu mengucapkan amin, kemudian naik ke anak tangga yang ketiga lalu mengucapkan amin. Kemudian duduk di atas mimbar. Maka sahabat-sahabatnya berkata, “Apa yang engkau aminkan hai Rasulullah? Beliau berkata, “Jibril mendatangiku, lalu ia berkata, ‘Celaka orang yang disebutkan namamu dihadapnnya lalu ia tidak bersholawat atasmu, maka aku mengucapkan amin. Kemudian ia berkata, ‘Celaka orang yang mendapatkan kedua orangtuanya dan ia tidak masuk surga …”. (Shohih dengan syawahidnya, Fadhlush Sholah ‘alan Nabi tahqiq Syaikh Al Albany, hal; 30).
Ibu …
karena kemuliaanmu kening tertunduk hina di depanmu
namamu semerbak mewangi, haribaanmu menghangati jiwaku
Allah yang  Maha Tinggi lagi Mulia menjagamu.
Kepadamu ibuku, aku rindu
Ridhomu atasku bagai hembusan angin nan sejuk menghapus dukaku
Kasihmu duhai ibu, penawar luka-lukaku
Peliru lara sepanjang umurku dan tempat bernaungku
Dan setelah kepada Allah, kepadamulah aku mengadu
Kala problema merundungku
Dengan do’amu duhai ibu sirna segala kesusahanku
Do’amu laksana jalan bagi hatiku
Wahai ibuku, engkaulah yang membuat indah hidupku
Bunga-bunga nan indah mekar dan mata air yang tak pernah berhenti mengaliriku
Tak dapat kuhitung malam-malam yang kau lalui tanpa memejamkan matamu
Dan hatimu bersedih ketika aku pergi meninggalkanmu
Teruslah ibu menjadi pelita yang bagiku.
Agar aku bisa berbakti kepadamu.
Footnote :
[1] Lebih luas tentang bakti kepada ibu silahkan membaca : Wahai Ibu Ma’afkan Anakmu, oleh Abuz Zubair Hawaary, cet. Daarul Falah Jakarta.
Penulis : Ust. Abuz Zubair Hawaary Lc.
Sumber : www.abuzubair.net