Jumat, 10 Mei 2013

Diklat Cakep



IN MEMORIAM DIKLAT CAKEP ACEH SINGKIL

AWALNYA penulis mengikuti kegiatan ini  karena  rekomendasi pimpinan untuk mengikuti perintah dari Dinas Pendidikan Kabupaten Aceh Singkil agar masing-masing satuan pendidikan mengirimkan peserta diutamakan wakasek kurikulum untuk mengikuti pelatihan calon kepala sekolah (Cakep).
Sama seperti peserta lain, awalnya penulis juga berasumsi ini hanya pelatihan biasa sebagaimana kegiatan lain yang “katanya” untuk menghabiskan anggaran akhir tahun. Tetapi yang terjadi tidak seperti yang dibayangkan.
Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Kepala Sekolah (LPPKS) yang berlokasi di Solo Jawa Tengah dengan dukungan penuh dari Australian AID melalui Program SEDIA  yang bekerjasama dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Aceh Singkil memang sedang melaksanakan piloting program penyiapan calon kepala sekolah tahap II yang diawali dengan seleksi administrasi ditingkat Kabupaten  dan bagi peserta yang lulus tahap ini harus mengikuti seleksi akademik.
Kegiatan seleksi untuk peserta Kabupaten Aceh Singkil dilaksanakan pada tanggal 28 Desember 2012 s.d 4 Januari 2013 di Island Hotel - Singkil. Materi Seleksi terdiri dari tes akademik, tes rencana tindak kepemimpinan dan wawancara yang memerlukan waktu dua hari langsung ditangani oleh pihak LPPKS Solo dan LPMP Aceh.
Dari 47  peserta se Kabupaten Aceh Singkil yang ikut seleksi hanya 23 peserta  (2 SMA, 3 SMP,  3 MTs,  2 SMA, 2 MA, dan 11 SD/MI) yang dinyatakan layak (lulus) dan dapat melanjutkan ke tahap Diklat. Diklat  cakep  tahap II In Service Learning-I periode 8-10 April 2013 Kabupaten Kabupaten Aceh Singkil tetap dilaksanakan di Island Hotel, Pulo Sarok Singkil.

Kegiatan Diklat In Service Learning-1
Pada hari pertama Check In langsung diadakan pembukaan dan pre-tes pada malam harinya.
 I do my best, you do your best, we do our best, the best yes!. Tepuk tangan menggema di aula Island Hotel mengawali kegiatan pembelajaran pelatihan calon Kepala Sekolah (Cakep) Aceh Singkil.
Awalnya memang terasa lucu, dimulai dengan pembentukan, prosesi penyerahan bendera dan atribut suku berupa scraf yang harus diikat ditempat yang sesuai dengan kesepakatan anggota kelompok. Peserta kemudian dilatih untuk melafalkan yel-yel cakep nasional seperti yang tertulis di atas. Setelah semua lancar, oleh Master Trainer (MT) masing masing suku diminta membuat yel-yel suku selama 10 menit.
Dari kegiatan inilah dimulai kelucuan-kelucuan selama dua hari penuh. Bagai mana tidak, memperagakan yel-yel, membuat koreografi  selama 25 menit dan menarikannya (pada tahap ini walaupun kelihatan aneh, angkat salut untuk Bapak-Bapak yang sudah mau berusaha menggerakkan badan demi menjaga nama  dan kesolidan suku), segitiga bermuda, pasak bumi, tentara semut, bom waktu, pabrik kapal, membangun menara, lempar gelang, rusa dan rumah, kwartet serta permainan lain yang dikemas dengan model dan peraturan yang menarik,  dengan waktu sangat terbatas dan mempunyai ciri khas tersendiri, ditambah godaan dan hasutan yang dilakukan suku yang ditugaskan sebagai penggoda, lazimnya dilakukan oleh anak-anak dan remaja.
Memang terlihat sepele, akan tetapi setelah kami melakukan game demi game terasa sekali makna dan tujuan yang diinginkan. Ini kita ketahui setelah setiap game selesai dilakukan suku berhasil atau tidak, maka suku tersebut harus menanggapi apa yang menjadi keunggulan dan kelemahan suku serta kemampuan apa saja yang harus dimiliki peserta untuk menyelesaikan permainan itu.
Tujuannya, sebelum peserta diklat memulai kegiatan pembelajaran di dalam kelas, terlebih dahulu didesign games  sebagai pengetahuan awal peserta diklat tentang lima kompetensi kepemimpinan yang dikemas melalui kegiatan dinamika kelompok berupa games. Selain itu setiap orang yang terpilih sebagai kepala suku atau anggota pada setiap games harus dapat mengembangkan kemampuan berpikir kreatif, berani, berpikir positif, motivasi, pantang menyerah dan yang paling utama adalah perencanaan yang matang untuk menjalankan suatu tindakan.
Yang paling mengesankan adalah pada saat pengumuman juara, terlihat sekali rasa kebersamaan dan sportifitas antar kelompok. Sebelum penyerahan bendera suku  kepada MT dilakukan sebagai akhir dari dinamika kelompok,  semua peserta termasuk MT secara bergantian memberikan selamat kepada suku yang menjuarai kegiatan.
Pada malam harinya dimulailah pembelajaran di kelas yang dimulai dengan materi tentang spiritual leadership dan hari-hari selanjutnya banyak materi yang harus di terima peserta diantaranya  kepemimpinan pembelajaran, kewirausaaan,  penyusunan RKS, pengelolaan PTK, pengelolaan keuangan, pengelolaan sarana dan prasarana, pengelolaan peserta didik, pengelolaan kurikulum, TIK, pembinaan ADM sekolah, manajerial,  supervisi akademik, RTK, monitoring dan evaluasi dan lain-lain.
Kegiatan pembelajaran siang hari  dimulai dari pukul 08.00 wib sampai pukul  17.30 wib dan pada malam hari dimulai dari pukul 19.00 wib sampai pukul 21.30 wib. Yang mengherankan, sepertinya peserta tidak pernah bosan dengan materi-meteri yang diberikan oleh MT. Hal ini mungkin disebabkan oleh muatan materi yang  memang sangat penting dan MT tidak  sekedar memberikan materi melalui ceramah, tetapi diawali dengan menayangkan masalah/kasus yang bersumber dari film, animasi, pernyataan dan lain-lain yang meminta perhatian peserta diklat untuk memahami, menganalisa, menanggapi serta  memecahkan masalah/kasus tersebut. Selanjutnya terjadilah diskusi-diskusi kelompok besar ataupun kelompok kecil yang berkaitan dengan materi.
Walaupun tubuh terasa letih dan persendian masih terasa sakit akibat olah raga kejutan selama 2 hari, peserta tetap bersemangat untuk berusaha menyampaikan ide dan aspirasinya dalam menanggapi masalah tersebut. Semangat peserta sepertinya tidak mundur, Ini terlihat dari antusias peserta ketika melaksanakan diskusi-diskusi dan menyelesaikan tugas dari masing-masing MT.
Merupakan suatu kesan yang menyenangkan ketika mengikuti kegiatan ini. Bukan karena embel-embel kepala sekolah. Hal ini bukan menjadi fokus utama, dan menjadi tidak penting rasanya jika dikaitkan dengan wawasan keilmuan. Ini tampak dari raut wajah semua peserta  seperti tidak puas mereguk ilmu yang diberikan. Apalagi salah seorang sahabat cakep SMP dari Kecamatan Gunung Meriah yang notabene semua berasal dari satu sekolah, yaitu SMPN 3 Gunung Meriah tampak selalu tampil untuk menyelesaikan tugas-tugas umum.
Setelah menyelesaikan kegiatan diklat in-1 selama 70 jam (7 hari) peserta diklat masih harus menyelesaikan PR nya berupa pelaksanaan on the job learning  (OJL) selama 200 jam (lebih kurang 3 bulan) dimana masing-masing peserta wajib melaksanakan magang selama 150 jam di sekolah tempat peserta bertugas dan 50 jam di sekolah yang setara atau lebih tinggi levelnya untuk menerapkan ilmu yang telah diperoleh selama kegiatan pelatihan. Hasil dari OJL  yang merupakan laporan tertulis ini akan presentasikan pada diklat inservice-II.

Kegiatan Diklat In Service Learning-2
Pada hari check in diklat in-2 banyak peserta yang dilandasi kecemasan, dikarenakan laporan yang belum rampung dan presentasi belum selesai, bahkan ada peserta tingkat SMA yang laporan OJLnya masih amburadul. Lainnya halnya dengan tiga orang peserta yang terpaksa mengundurkan diri, lantaran tidak sanggup untuk menyelesaikan laporan OJLnya.
Suatu harapan setelah mengikuti diklat in-2 adalahsemoga cakep-cakep Aceh Singkil tahun 2013 dapat lulus atau berhasil semuanya. Sehingga beban yang terasa berat itu tidak sia-sia. Dengan keyakinan, semangat, dan kemampuan peserta  mudah-mudahan akan lahir pemimpin-pemimpin masa depan yang  berkualitas yang benar-benar mampu memainkan tugas, peran dan fungsinya  sesuai dengan PP no. 13 Tahun 2007 dalam upaya mewujudkan cita-cita pendidikan yaitu membentuk insan Indonesia yang cerdas dan kompetitif.